NUSANEWS.CO.ID – IBU KOTA NUSANTARA. Di bawah langit cerah Kalimantan Timur, hamparan bangunan megah di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) tampak berdiri anggun di tengah hijaunya hutan tropis. Dari area galeri pandang, lanskap kota masa depan Indonesia itu terlihat begitu memukau. Plaza luas membentang menuju kawasan istana, gedung kementerian berdiri kokoh, sementara ruang-ruang hijau menyatu harmonis dengan alam sekitarnya.
Pemandangan itulah yang membuat Dr dr M Afzal Mahmood, PhD, Kaltim Health Advisor dari Universitas Adelaide Australia, kembali terkesan saat mengunjungi IKN, Sabtu (16/5). Bersama sejumlah sahabat dan koleganya, yakni Kepala Dinas Kesehatan Kutai Kartanegara Ismi Mufiddah, Wakil Direktur RSUD AW Sjahranie Hj Masitah, serta wartawati Samarinda Pos Linda Meilani, Afzal menikmati langsung perkembangan kawasan yang kini menjadi simbol masa depan Indonesia tersebut.
Bagi Afzal, IKN bukan sekadar proyek pembangunan ibu kota baru, melainkan representasi identitas nasional Indonesia yang diwujudkan dalam bentuk arsitektur, budaya, dan lanskap kota modern.
“Ini pembangunan yang sangat spektakuler. Melihat istana itu benar-benar memanjakan mata,” ujarnya kagum.
Perhatian Afzal langsung tertuju pada bangunan Istana Negara dengan simbol Garuda raksasa yang berdiri megah di belakangnya. Menurutnya, desain tersebut menghadirkan gambaran tentang kebesaran Indonesia sebagai negara kepulauan yang luas dengan keberagaman budaya dan jumlah penduduk yang besar.
“Garuda di belakang istana benar-benar merepresentasikan kemegahan dan kebesaran Indonesia,” katanya.
Kunjungan kali ini bukan yang pertama bagi Afzal. Ia mengaku pernah datang ke lokasi IKN sekitar dua setengah tahun lalu, tepatnya pada 2023, saat kawasan tersebut masih berada dalam tahap awal pembangunan.
“Bahkan saat masih menjadi area konstruksi, tempat ini sudah sangat mengesankan. Saya tahu sesuatu yang besar sedang dibangun di sini,” kenangnya.
Yang paling menarik perhatian Afzal adalah bagaimana pembangunan
IKN tetap mempertahankan identitas budaya dan nasional di tengah konsep kota modern yang diusung. Ia menilai pendekatan tersebut jarang ditemukan dalam pembangunan kota-kota baru di berbagai negara.
Menurutnya, penghormatan terhadap tokoh-tokoh bangsa seperti Soekarno dan Mohammad Hatta yang dihadirkan di kawasan plaza menjadi simbol kuat bahwa pembangunan IKN tidak melepaskan akar sejarah Indonesia.
“Desain bangunannya juga bukan sekadar kotak-kotak biasa, tetapi sangat elegan. Ada identitas budaya yang terasa kuat,” tuturnya.
Tak hanya itu, keberadaan ruang terbuka hijau, kawasan hutan yang tetap dipertahankan, serta elemen air di dalam kota dinilai sangat mencerminkan karakter Indonesia sebagai negeri yang kaya akan laut, sungai, dan hutan tropis.
Dari titik pandang ketinggian, Afzal melihat bagaimana kawasan hijau menyatu dengan bangunan pemerintahan modern. Baginya, perpaduan tersebut menghadirkan pengalaman visual yang luar biasa.
“Melihat dari sudut pandang mata burung, semuanya terasa sangat fantastis. Hutan hijau yang mengelilingi kawasan, ruang terbuka di antara bangunan, hingga plaza menuju istana dan gedung kementerian, semuanya sangat mengesankan,” katanya.
Ia pun mengaku bisa merasakan besarnya imajinasi yang melahirkan pembangunan IKN.
“Benar-benar terasa ada visi besar dari orang-orang yang menggagas kawasan ini,” ujarnya.
Afzal meyakini pembangunan IKN akan memberi dampak besar bagi masyarakat Kalimantan Timur, khususnya dalam bidang pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, hingga peluang usaha bagi masyarakat lokal di Sepaku, Penajam Paser Utara, Paser, Kutai Kartanegara, dan wilayah lainnya.
Ia mengungkapkan pernah terlibat dalam penelitian bersama pemerintah daerah, Universitas Mulawarman, serta sejumlah pihak di Paser dan Kutai Kartanegara untuk melihat respons masyarakat terhadap pembangunan IKN.
“Kami berbicara langsung dengan masyarakat lokal dan melihat harapan besar mereka terhadap perkembangan kawasan ini,” katanya.
Dalam kunjungannya kali ini, Afzal juga menyempatkan melihat sejumlah fasilitas penunjang di sekitar kawasan, termasuk masjid besar di wilayah kesultanan yang menurutnya sangat megah dan nyaman.
Selama lebih dari dua dekade bekerja di Indonesia, Afzal mengaku memiliki kedekatan tersendiri dengan Kalimantan Timur. Setelah sebelumnya bekerja di Jakarta, ia banyak terlibat dalam berbagai kegiatan bersama universitas dan rumah sakit di Kalimantan maupun Jawa Timur.
Karena itu, ia berharap suatu saat dapat ikut berkontribusi dalam pengembangan sektor kesehatan di IKN.
“Saya berharap bisa bekerja sama dengan rekan-rekan di sektor kesehatan di IKN dan ikut memberikan kontribusi bagi sistem di kawasan pembangunan baru yang indah ini,” pungkasnya. (Mei)












