KALTIMNusantaraUtama

Groundbreaking PLTA Batoq Kelo dan Jalan Kaltim-Kaltara Jadi Tonggak Baru Energi Hijau dan Konektivitas Kalimantan

NUSANEWS.CO.ID – SAMARINDA. Proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batoq Kelo berkapasitas 300 megawatt resmi dimulai melalui seremoni groundbreaking yang digelar di Odah Etam Gubernuran Kalimantan Timur, Senin (25/5).

‎Kegiatan tersebut sekaligus menandai dimulainya pembangunan akses jalan penghubung Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara sepanjang lebih dari 120 kilometer.

‎Proyek strategis yang digagas PT Tujuan Mulia Makmur (TMM) itu disebut menjadi salah satu langkah besar dalam mendukung transisi energi bersih sekaligus memperkuat konektivitas antarwilayah di Pulau Kalimantan.

‎Acara tersebut turut dihadiri Gubernur Kaltim, Wakil Gubernur Kaltim, Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Timur, jajaran Forkopimda, kepala perangkat daerah, investor dari Republik Rakyat Tiongkok, hingga Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo dan Utusan khusus presiden bidang iklim dan energi, Hashim Djojohadikusumo.

Direktur Keuangan PT Tujuan Mulia Makmur, Citiy Jamiah, menegaskan bahwa pembangunan PLTA Batoq Kelo bukan sekadar proyek ketenagalistrikan, tetapi bagian dari visi besar Indonesia menuju kemandirian energi berbasis energi baru terbarukan.

“Di tengah tantangan perubahan iklim global dan meningkatnya kebutuhan energi nasional, proyek ini hadir sebagai jawaban konkret bahwa Indonesia mampu membangun kemandirian energi tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan,” ujarnya.

‎Dengan kapasitas mencapai 300 megawatt, PLTA Batoq Kelo diproyeksikan menjadi salah satu pembangkit listrik tenaga air terbesar di Kalimantan Timur. Kehadiran proyek tersebut diyakini mampu memperkuat sistem kelistrikan regional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat Mahakam Ulu dan Kalimantan Timur secara umum.

‎PT TMM juga menyatakan komitmennya menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan dengan memperhatikan aspek lingkungan hidup, keanekaragaman hayati, dan tata kelola air yang bertanggung jawab. Selain itu, perusahaan berjanji memberdayakan masyarakat lokal melalui penyerapan tenaga kerja, pengembangan sumber daya manusia, serta program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

‎Sebagai bentuk dukungan terhadap konektivitas wilayah, PT TMM turut merealisasikan pembangunan jalan sepanjang sekitar 120 kilometer yang menghubungkan Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, termasuk pembangunan jembatan sepanjang 120 meter di atas Sungai Mahakam.

‎“Infrastruktur ini kami hadirkan sebagai wujud tanggung jawab kepada masyarakat sekitar sekaligus membuka akses konektivitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal,” kata Citiy Jamiah.

‎‎Sementara itu, perwakilan kontraktor EPC asal Tiongkok, Wang Qi dari China Power Construction Corporation, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan pemerintah Indonesia terhadap perusahaan mereka dalam mendukung pembangunan energi hijau nasional.

Menurutnya, perusahaan tersebut telah terlibat dalam sejumlah proyek energi besar di Indonesia, seperti PLTA Asahan, PLTA Poso, hingga PLTS Terapung Cirata. Ia memastikan pembangunan PLTA Batoq Kelo akan mengedepankan standar kualitas tinggi, keselamatan kerja, serta perlindungan terhadap ekosistem setempat.

‎Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyebut proyek tersebut sebagai langkah besar dan sangat kompetitif bagi pengembangan energi di Kalimantan Timur. Nilai investasi proyek diperkirakan mencapai 700 juta dolar Amerika Serikat atau hampir Rp13 triliun.

‎“Kalau civil work, tentu melibatkan masyarakat sekitar, mulai dari kebutuhan material, tenaga kerja, hingga sektor pendukung lainnya. Ini akan memberikan dampak ekonomi besar bagi masyarakat Kalimantan Timur,” katanya.

‎Di sisi lain, Rudy Mas’ud menilai proyek tersebut menjadi harapan besar bagi masa depan masyarakat Mahakam Ulu dan Kalimantan Timur. Ia berharap listrik yang dihasilkan tidak hanya memenuhi kebutuhan kawasan industri maupun perkotaan, tetapi juga mampu menjangkau daerah terpencil yang selama ini masih minim akses listrik.

‎“Jangan sampai ada pembangkit besar, tetapi masyarakat di pelosok masih menggunakan lilin. Harapan kami, 300 megawatt ini benar-benar menjadi penerang bagi seluruh masyarakat,” tegas Rudy Mas’ud.

‎Selain mendukung ketahanan energi nasional, pembangunan akses jalan menuju Kalimantan Utara juga dinilai strategis untuk membuka isolasi wilayah dan mempercepat pertumbuhan ekonomi kawasan perbatasan.

‎‎Dalam kesempatan tersebut, Hashim Djojohadikusumo menekankan pentingnya percepatan pembangunan energi terbarukan guna mendukung target Indonesia mencapai net zero emission pada 2060.

‎Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto telah menegaskan komitmen Indonesia di berbagai forum internasional terkait pengembangan energi bersih dan pengurangan emisi karbon.

‎“Proyek seperti PLTA Batoq Kelo menjadi sangat penting untuk mempercepat kemandirian energi nasional berbasis sumber daya alam dalam negeri,” ujarnya.

‎Hashim juga menilai proyek tersebut bukan hanya menghadirkan pembangkit listrik, tetapi juga membawa harapan baru bagi masyarakat Kalimantan Timur dan Indonesia secara luas. (mei)