NUSANEWS.CO.ID – SAMARINDA. Kota Samarinda mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit campak setelah Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat sedikitnya 72 kasus suspek di berbagai wilayah. Kasus-kasus tersebut masih dalam tahap pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah benar positif campak atau tidak.
Sebelumnya, Dinas Kesehatan Kalimantan Timur melaporkan terdapat 126 kasus campak di wilayah Benua Etam. Dari jumlah tersebut, puluhan laporan berasal dari Samarinda. Kepala Dinas Kesehatan Samarinda, dr Ismed Kusasih, menyampaikan bahwa sebagian besar kasus yang dilaporkan masih berstatus suspek sehingga belum dapat dipastikan sebagai campak
“Dari laporan teman-teman di bidang P2, saat ini ada sekitar 72 kasus suspek campak di Samarinda. Namun ini masih dugaan, sehingga kita masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah benar positif campak atau tidak,” ujarnya.
Ismed menjelaskan, berdasarkan penelusuran sementara di lapangan, sebagian besar anak yang dilaporkan sebagai suspek campak belum pernah mendapatkan imunisasi campak. Karena itu, Dinkes Samarinda segera melakukan langkah tindak lanjut berupa imunisasi kejar bagi anak-anak yang belum menerima vaksin.
“Mayoritas yang terlapor memang belum pernah mendapatkan imunisasi campak. Maka kami melakukan program imunisasi kejar agar anak-anak yang belum divaksin dapat segera memperoleh perlindungan,” jelasnya.
Meski terjadi peningkatan laporan kasus, Dinkes Samarinda menegaskan bahwa kondisi ini belum masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB). Penetapan status KLB harus melalui mekanisme tertentu dan ditetapkan secara resmi oleh pemerintah daerah.
“Untuk Samarinda belum masuk KLB. Penetapan KLB itu ada mekanismenya dan biasanya harus ditetapkan oleh kepala daerah,” terangnya.
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes meningkatkan kewaspadaan di seluruh fasilitas kesehatan, baik puskesmas maupun rumah sakit. Fasilitas kesehatan diminta lebih aktif melakukan pemantauan serta pelaporan kasus.
Selain itu, Dinkes juga berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), guna memperkuat pengawasan kesehatan, terutama bagi masyarakat yang datang dari luar daerah.
Berdasarkan data sementara, wilayah Loa Buah tercatat sebagai daerah dengan laporan suspek campak terbanyak. Sementara itu, kasus lainnya tersebar di sejumlah wilayah lain di Kota Samarinda.
Selain imunisasi kejar, petugas kesehatan juga memberikan vitamin A kepada anak-anak, khususnya bayi dan balita di bawah usia lima tahun, untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Dinkes Samarinda memastikan bahwa hingga saat ini program Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi massal belum dilakukan. Program tersebut biasanya dilaksanakan apabila suatu daerah telah ditetapkan sebagai KLB.
“ORI itu imunisasi menyeluruh untuk semua sasaran, tetapi dilakukan jika sudah KLB. Karena Samarinda belum KLB, maka saat ini fokus kami adalah imunisasi kejar dan peningkatan kewaspadaan,” tutupnya. (adv/mei)












