KALTIMKesehatanUtama

Workshop Internasional Bedah Mulut Digelar di Samarinda, Hadirkan Kolaborasi Indonesia–Malaysia- Singapore

NUSANEWS.CO.ID – SAMARINDA. RSUD A.W. Sjahranie (AWS) Samarinda menggelar Workshop Internasional 2nd Borneo Oral and Maxillofacial Scientific Session 2026 dengan tema “From Defect to Function: Redefining Boundaries in Oral and Maxillofacial Reconstruction”.

Kegiatan yang digelar selama dua hari Jumat-Sabtu (24-25/4) ini menjadi ajang kolaborasi ilmiah sekaligus pelatihan klinis di bidang bedah mulut dan maksilofasial yang melibatkan peserta dari dalam dan luar negeri.

Workshop ini menghadirkan narasumber internasional dari University of Malaya, yakni Prof. dr. Firdaus Hariri. Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara Malaysia dan Indonesia dalam bidang ini sebenarnya telah lama terjalin dan akan terus dilanjutkan untuk memperkuat pengembangan keilmuan serta keterampilan klinis tenaga medis.

Associate Prof. Zheng Lei dari National University Centerbfor Oral Health Singapore, drg Andri Hardiyanto Sp[.BMM Subsp.Ortoghnat,Ph.D,   dan drg Deni Herdiyanto, Sp.BBM (K) TMF-TMJ serta dari RSUD AWS Adalah drg Syahril Samad, Sp.BBM (K) Subsp.TMTMJ(K)FTMJSI.

Ketua KSM Gigi dan Mulut RSUD AWS, drg. Syahril Samad, menyampaikan bahwa workshop ini tidak hanya berisi teori, tetapi juga praktik langsung di ruang operasi. Salah satu tindakan yang dilakukan adalah prosedur cangkok tulang rahang pada pasien.

“Workshop ini kami batasi hanya 15 peserta karena dilakukan langsung di kamar operasi. Meski terbatas, seluruh kuota terpenuhi dan antusiasme peserta sangat tinggi,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan serupa sebelumnya telah digelar di beberapa daerah seperti Bali, namun untuk Kalimantan ini merupakan yang pertama dengan konsep pelatihan intensif berbasis praktik langsung.

Peserta workshop berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, serta mancanegara, termasuk dari Korea Selatan melalui Yonsei University dan tenaga medis berkewarganegaraan Arab Saudi. Hal ini menunjukkan tingginya minat terhadap pengembangan teknik rekonstruksi maksilofasial di kawasan ini.

Wakil Direktur RSUD AWS, Masitah, menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya rumah sakit dalam meningkatkan layanan kesehatan yang komprehensif.

“Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada aspek kuratif, tetapi juga edukatif dan peningkatan kapasitas tenaga medis. Kami berharap workshop ini menjadi langkah awal untuk pengembangan layanan yang lebih baik ke depannya,” katanya.

Salah satu peserta, drg. Cahyadi Siaw dari RSUD Kabupaten Bombana, mengaku mendapatkan banyak manfaat dari pelatihan ini. Ia menyebutkan bahwa selama ini tindakan pengangkatan tumor sudah dapat dilakukan di daerah, namun rekonstruksi seperti cangkok tulang rahang masih menjadi tantangan.

“Dengan mengikuti workshop ini, kami berharap ke depan bisa melakukan tindakan rekonstruksi secara mandiri di daerah,” ujarnya.

Workshop ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam pengembangan kompetensi dokter bedah mulut dan maksilofasial di Indonesia, khususnya di Kalimantan, sekaligus memperkuat jejaring kolaborasi internasional di bidang kesehatan. (mei)