KALTIMUtama

RSUD IA Moeis Buka Klinik Gagal Jantung Pertama di Kalimantan

NUSANEWS.CO.ID – SAMARINDA . RSUD Inche Abdoel Moeis (IA Moeis) Samarinda resmi memperkenalkan Klinik Gagal Jantung atau Heart Failure Clinic. Layanan ini disebut menjadi klinik gagal jantung pertama di Kalimantan dan dihadirkan untuk memperkuat penanganan pasien penyakit jantung secara lebih terarah, terpadu, dan berkelanjutan.

Peluncuran layanan tersebut ditandai dengan seminar dan talkshow pengenalan Klinik Gagal Jantung. Kehadiran layanan ini dilatarbelakangi tingginya jumlah pasien jantung serta kebutuhan penanganan khusus bagi pasien gagal jantung yang membutuhkan pemantauan dan terapi secara berkelanjutan.

Direktur RSUD IA Moeis, dr Osa Rafshodia, mengatakan pembentukan klinik tersebut juga menjadi respons rumah sakit terhadap peningkatan kunjungan pasien di poli jantung.

Berdasarkan analisis kunjungan Januari hingga Agustus 2026, persentase kunjungan poli jantung meningkat dari sekitar 8,39 persen pada Januari menjadi 9,26 persen pada Agustus. Dari sisi jumlah, kunjungan meningkat dari sekitar 998 pasien pada Januari menjadi sekitar 1.100 pasien pada Agustus.

“Kalau kita lihat pelayanan, persentase itu penting, tetapi lebih penting lagi akhirnya kita layani. Di Januari sekitar 998 pasien, sementara Agustus mencapai sekitar 1.100 pasien,” jelas Osa.

Menurutnya, peningkatan kunjungan tersebut menunjukkan perlunya pemilahan pasien berdasarkan kondisi klinis. Pasien yang kondisinya sudah stabil dapat dilanjutkan penanganannya di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), sedangkan pasien yang membutuhkan penanganan lebih kompleks tetap mendapatkan layanan di rumah sakit.

Osa menegaskan, keberadaan Klinik Gagal Jantung bukan semata-mata untuk meningkatkan jumlah kunjungan rumah sakit. Hal yang lebih penting adalah memastikan pasien mendapatkan layanan sesuai kebutuhan medisnya.

“Untuk itulah kita perlu Klinik Gagal Jantung, untuk meningkatkan outcome. Jadi klinik ini bukan hanya untuk memilah pasien, tetapi ada kriteria-kriteria prioritas lainnya,” katanya.

Bukan Sekadar Poli Jantung

Pemegang program Klinik Gagal Jantung RSUD IA Moeis, dr Syifa Mahmud Syukran Akbar, menjelaskan layanan tersebut memiliki sejumlah perbedaan dibandingkan pelayanan poli jantung umum.

Salah satunya adalah penyediaan layanan telemedicine selama 24 jam melalui grup pasien gagal jantung. Layanan ini memungkinkan pasien mendapatkan pemantauan dan konsultasi ketika mengalami kendala setelah menjalani perawatan.

Selain itu, tim Klinik Gagal Jantung berupaya mempercepat pemberian terapi kepada pasien. Pasien juga mendapatkan konseling gagal jantung secara komprehensif dengan dukungan perawat khusus gagal jantung.

Klinik tersebut juga dikembangkan sebagai basis data, register, dan penelitian melalui IAM HF Register.

“Harapannya kita menjadi pusat gagal jantung di Kaltim, bahkan Kalimantan,” ujar Syifa.

Ke depan, RSUD IA Moeis juga berencana mengembangkan layanan cardiac rehabilitation atau rehabilitasi jantung. Layanan tersebut diharapkan menjadi bagian dari pengelolaan pasien secara berkelanjutan, tidak hanya selama menjalani perawatan di rumah sakit.

Syifa mengatakan, gagal jantung masih menjadi persoalan besar dalam penyakit kardiovaskular. Salah satu tantangannya adalah belum optimalnya penggunaan terapi pada pasien dengan penurunan fungsi pompa jantung.

Optimalisasi terapi, kata dia, penting untuk meningkatkan kualitas hidup pasien sekaligus menekan beban penyakit kardiovaskular.

“Masalahnya bukan hanya jumlah pasien yang cukup besar, tetapi juga beban finansial, fisik dan psikis yang ditanggung pasien dengan penyakit kardiovaskular, termasuk gagal jantung,” jelasnya.

Fase Pascapulang Jadi Perhatian

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari RS UNS Solo, dr Habibie Arifianto, yang menjadi narasumber dalam talkshow, menyoroti pentingnya penanganan pasien pada fase setelah keluar dari rumah sakit.

Menurutnya, pasien gagal jantung memiliki risiko kembali dirawat apabila setelah pulang tidak mendapatkan pemantauan dan pengelolaan yang baik.

Selama menjalani perawatan di rumah sakit, pasien mendapatkan pengawasan ketat, mulai dari pemberian obat, pengaturan pola makan hingga pemantauan kondisi. Namun setelah pulang, pasien kembali menjalani perawatan secara mandiri di rumah.

“Jadi jangan berharap bahwa pasien yang kita pulangkan dari rumah sakit itu langsung aman. Ada namanya fase transisi, dan ini merupakan fase rawan bagi pasien gagal jantung,” jelas Habibie.

Karena itu, kesinambungan layanan menjadi penting agar kondisi pasien tetap terpantau setelah keluar dari rumah sakit. Pendampingan tersebut juga diperlukan untuk memastikan pasien menjalani terapi dan perubahan pola hidup sesuai anjuran medis.

Dinkes Apresiasi Inovasi

Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, dr Ismed Kusasih, yang membuka rangkaian talkshow, mengapresiasi hadirnya Klinik Gagal Jantung di RSUD IA Moeis.

Menurutnya, inovasi tersebut tidak hanya menjadi perhatian Dinas Kesehatan, tetapi juga Pemerintah Kota Samarinda karena berkaitan langsung dengan upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.

“Ini adalah klinik gagal jantung pertama di Kalimantan. Apa yang dikembangkan di RS Moeis ini sangat kami apresiasi,” kata Ismed.

Ia mengatakan, pengembangan layanan kesehatan pada akhirnya harus bermuara pada peningkatan kualitas hidup masyarakat serta upaya mencegah kematian akibat penyakit.

“Prinsipnya kita di kesehatan itu bagaimana mencegah kematian sebesar-besarnya,” ujarnya.

Perkuat Peran FKTP

Osa menambahkan, pengembangan Klinik Gagal Jantung juga membutuhkan dukungan sistem pelayanan kesehatan secara menyeluruh, khususnya dengan memperkuat kemampuan FKTP dalam menangani pasien yang kondisinya sudah stabil.

Dengan sistem rujukan yang berjalan baik, pasien tidak harus selalu mendapatkan pelayanan di rumah sakit apabila kondisi klinisnya sudah memungkinkan untuk ditangani di tingkat pertama.

“Kenapa gagal jantung? Karena di situ kasusnya besar dan cost-nya juga besar,” pungkas Osa.

Kehadiran Klinik Gagal Jantung menjadi langkah RSUD IA Moeis dalam membangun layanan yang lebih terintegrasi, mulai dari penanganan di rumah sakit, pemantauan pascapulang, edukasi pasien, telemedicine, hingga penguatan layanan di FKTP.

Melalui layanan tersebut, pengelolaan pasien gagal jantung diharapkan tidak berhenti ketika pasien keluar dari rumah sakit, tetapi terus berlanjut melalui pemantauan, edukasi, terapi, dan pendampingan secara berkesinambungan. (adv/dim)