KALTARAKALTIMNusantaraUtama

Kabut Asap Mahulu Makin Pekat, DPRD Minta Bantuan Medis Diperluas

NUSANEWS.CO.ID – SAMARINDA. Kabut asap yang menyelimuti Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat. Kondisi udara yang disebut semakin buruk dalam beberapa hari terakhir mendorong DPRD Mahulu meminta pemerintah provinsi memperluas dukungan penanganan, tidak hanya berupa pembagian masker.

Aspirasi tersebut disampaikan Komisi III DPRD Mahulu bersama Kepala Dinas Kesehatan Mahulu saat berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur, Rabu (16/9).

Rombongan diterima Kepala Dinkes Kaltim, dr Jaya Mualimin. Dalam pertemuan itu, DPRD Mahulu memaparkan kondisi kualitas udara sekaligus dampaknya terhadap masyarakat di sejumlah wilayah.

Anggota Komisi III DPRD Mahulu, Subhan Noor, mengatakan kondisi udara dalam dua hari terakhir cukup mengkhawatirkan. Kabut asap bahkan membuat jarak pandang di sejumlah lokasi menjadi sangat terbatas.

“Dalam dua hari belakangan ini kualitas udara sangat-sangat buruk. Kita bernapas saja terasa. Kondisinya fluktuatif, kadang asap berkurang, tetapi ada hari tertentu asap kembali pekat,” kata Subhan.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga harus menjadi perhatian dari sisi kesehatan. Dampaknya mulai dirasakan masyarakat, termasuk aktivitas belajar mengajar yang terpaksa terganggu karena kualitas udara buruk.

Subhan menyebut bantuan masker yang telah diberikan Dinkes Kaltim merupakan langkah awal yang patut diapresiasi. Namun, kebutuhan di lapangan dinilai lebih luas.

“Kami mengapresiasi bantuan dari Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim yang sudah didistribusikan kepada masyarakat. Namun, bukan hanya masker yang dibutuhkan. Kami juga membutuhkan nebulizer, obat-obatan, vitamin dan masker N95,” ujarnya.

Ia berharap dukungan pemerintah provinsi dapat menjangkau Mahulu secara lebih optimal, mengingat wilayah tersebut juga terdampak kabut asap.

Sementara itu, anggota Komisi III DPRD Mahulu lainnya, Agustinus Tului, mengungkapkan hasil pemantauan kualitas udara di Ujoh Bilang sempat menunjukkan angka 363. Kondisi tersebut, menurutnya, menggambarkan buruknya kualitas udara yang perlu segera diantisipasi.

“Untuk udara dalam ruangan saja sudah mencapai 363. Ini sudah masuk kategori berbahaya,” katanya.

Agustinus juga menyampaikan adanya sekitar 10,6 hektare lahan yang terpantau terbakar di wilayah Ujoh Bilang dalam beberapa hari terakhir. Namun, ia menduga kabut asap yang dirasakan masyarakat Mahulu tidak seluruhnya berasal dari kebakaran di wilayah tersebut.

Menurutnya, asap dari wilayah lain berpotensi masuk ke Mahulu terbawa arah angin. Kondisi ini membuat penanganan kabut asap membutuhkan koordinasi lintas daerah.

“Kalau untuk api, saya kira enggak signifikan. Kebakaran yang luas justru ada di wilayah Kutai Barat. Dengan arah angin dari utara, kemungkinan asap dari luar wilayah juga masuk dan terakumulasi di Mahulu,” jelasnya.

Persoalan lain yang menjadi perhatian DPRD Mahulu adalah keterbatasan alat pemantau kualitas udara. Hingga kini, Mahulu belum memiliki alat pengukur kualitas udara standar dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Agustinus berharap pemerintah provinsi dapat membantu mengoordinasikan pemenuhan kebutuhan tersebut, termasuk dengan Dinas Lingkungan Hidup, sehingga kondisi kualitas udara di Mahulu dapat dipantau secara lebih akurat.

“ Kami belum bisa melakukan pengukuran secara maksimal karena belum memiliki alat pengukur dari Kementerian Lingkungan Hidup. Pemerintah provinsi berjanji akan membantu berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup,” ujarnya.

Dari sisi kesehatan, kondisi kabut asap juga mulai tercermin dalam meningkatnya keluhan masyarakat. Dinas Kesehatan Mahulu mencatat sekitar 238 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada bulan ini. Selain itu, kasus diare juga dilaporkan terjadi di wilayah Tiong Ohang.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan berpotensi lebih terdampak ketika kualitas udara memburuk.

Kepala Dinkes Kaltim, dr Jaya Mualimin, menyambut baik koordinasi yang dilakukan DPRD dan Dinkes Mahulu. Sebagai bentuk dukungan awal, Dinkes Kaltim telah menyalurkan dua dus masker kesehatan untuk kemudian didistribusikan kepada masyarakat.

DPRD Mahulu berharap dukungan tersebut dapat terus diperkuat, termasuk pemenuhan obat-obatan, vitamin, nebulizer hingga masker N95. Koordinasi antara pemerintah kabupaten dan provinsi juga dinilai penting agar penanganan kabut asap tidak berhenti pada pembagian masker, tetapi menyentuh kebutuhan kesehatan masyarakat secara menyeluruh. (lin)