NUSANEWS.CO.ID – SAMARINDA. Layanan hemodialisa atau terapi cuci darah di RSUD Inche Abdoel Moeis (IA Moeis) Samarinda terus dimanfaatkan oleh pasien gagal ginjal kronik. Saat ini puluhan pasien menjalani terapi secara rutin setiap minggu guna membantu menggantikan fungsi ginjal yang sudah tidak bekerja secara optimal.
Kepala Unit Hemodialisa RSUD IA Moeis, Rosdiana, menjelaskan bahwa hemodialisa merupakan salah satu metode terapi pengganti ginjal bagi pasien dengan gagal ginjal kronik stadium lanjut. Melalui proses ini, darah pasien disaring menggunakan mesin khusus untuk mengeluarkan racun serta kelebihan cairan dari dalam tubuh.
“Terapi pengganti ginjal ada tiga, yaitu hemodialisa, dialisis peritoneal yang dapat dilakukan secara mandiri di rumah, dan transplantasi ginjal. Di RSUD IA Moeis, pelayanan yang tersedia adalah hemodialisa menggunakan mesin,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa hemodialisa tidak menyembuhkan gagal ginjal, melainkan membantu menggantikan sebagian fungsi ginjal yang telah rusak. Mesin hemodialisa berperan menyaring zat berbahaya dalam darah serta mengatur keseimbangan cairan dalam tubuh pasien.
Menurut Rosdiana, pasien umumnya menjalani terapi cuci darah dua hingga tiga kali dalam seminggu. Jika dilakukan dua kali seminggu, satu sesi terapi berlangsung sekitar lima jam, sedangkan jika tiga kali seminggu durasinya sekitar empat jam setiap sesi.
Untuk memenuhi kebutuhan pasien, Unit Hemodialisa RSUD IA Moeis membuka pelayanan dalam dua shift setiap hari. Pelayanan pagi berlangsung pukul 07.00 hingga 13.00 WITA, sedangkan shift kedua dimulai pukul 13.00 hingga 20.00 WITA.
Saat ini tercatat sekitar 78 pasien aktif yang menjalani terapi secara rutin di unit tersebut, dengan jumlah kunjungan lebih dari 600 kali setiap bulan. Unit ini juga didukung 16 mesin hemodialisa, terdiri dari 13 mesin untuk pasien reguler, satu mesin khusus bagi pasien rawat inap atau ICU, serta dua mesin cadangan untuk mengantisipasi gangguan teknis.
“Dengan dua shift pelayanan, dalam sehari kami dapat melayani sekitar 26 pasien,” kata Rosdiana.
Ia menjelaskan bahwa pasien yang membutuhkan hemodialisa umumnya sudah berada pada stadium akhir gagal ginjal kronik atau CKD stadium 5, yakni ketika fungsi ginjal tersisa kurang dari 15 persen. Kondisi ini diketahui melalui pemeriksaan laboratorium, terutama kadar kreatinin dalam darah yang kemudian dihitung menggunakan metode GFR (Glomerular Filtration Rate).
Menurutnya, banyak pasien baru mengetahui kondisi ginjalnya setelah memasuki tahap lanjut karena pada fase awal penyakit ini sering tidak menimbulkan gejala yang jelas.
“Sering kali pasien datang ketika kondisinya sudah berat karena jarang melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Padahal jika diketahui sejak stadium empat, persiapan terapi seperti pembuatan akses cuci darah bisa dilakukan lebih awal,” jelasnya.
Penyebab utama gagal ginjal yang paling banyak ditemukan adalah hipertensi dan diabetes melitus. Kedua penyakit tersebut dapat merusak pembuluh darah di ginjal secara perlahan apabila tidak dikontrol dengan baik.
Karena itu, Rosdiana mengingatkan masyarakat terutama penderita hipertensi dan diabetes untuk rutin memeriksakan kondisi kesehatan serta mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter.
“Obat untuk hipertensi atau diabetes justru berfungsi menjaga agar kerusakan ginjal tidak semakin parah. Yang berbahaya adalah ketika penyakit tersebut tidak terkontrol,” katanya.
Selain penyakit penyerta, pola hidup juga menjadi faktor risiko, seperti kurang minum air putih dan terlalu sering mengonsumsi minuman manis kemasan. Ia bahkan pernah menemukan kasus gangguan ginjal pada pasien usia muda yang dipicu pola hidup tidak sehat sejak dini.
Meski harus menjalani terapi seumur hidup, Rosdiana menegaskan bahwa pasien gagal ginjal tetap dapat menjalani kehidupan secara normal apabila disiplin menjalani terapi, menjaga pola makan, dan membatasi asupan cairan.
“Jika pasien disiplin menjalani cuci darah dan menjaga pola hidup sehat, kualitas hidupnya tetap bisa baik dan mereka masih bisa beraktivitas seperti biasa,” ujarnya.
Melalui pelayanan yang terus ditingkatkan, Unit Hemodialisa RSUD IA Moeis Samarinda berharap dapat membantu pasien gagal ginjal mempertahankan kualitas hidup sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan ginjal sejak dini. (mei)












