NUSANEWS.CO.ID – SAMARINDA. Instalasi Laboratorium RSUD IA Moeis terus melakukan penguatan layanan diagnostik guna menunjang ketepatan terapi dan keselamatan pasien. Beragam pembaruan fasilitas dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan pemeriksaan medis di Kota Samarinda.
Kepala Instalasi Laboratorium, Dr Didi Irawadi, menjelaskan bahwa layanan laboratorium terbagi dalam dua bidang utama, yakni Patologi Klinik dan Patologi Anatomi. Patologi Klinik mencakup pemeriksaan cairan tubuh seperti darah, urine, dan cairan lainnya, sementara Patologi Anatomi berfokus pada analisis jaringan untuk mendukung penegakan diagnosis penyakit, termasuk keganasan.
Dalam sehari, laboratorium melayani 100 hingga 300 pasien. Namun dari sisi jenis pemeriksaan, jumlahnya dapat menembus lebih dari 1.000 item per hari karena setiap pasien umumnya menjalani beberapa tes sekaligus. Waktu tunggu hasil rata-rata sekitar dua jam, meski beberapa jenis pemeriksaan tertentu memerlukan waktu lebih lama.
Guna meningkatkan kemudahan akses, hasil pemeriksaan dapat diterima melalui layanan digital. Meski demikian, aspek kerahasiaan tetap menjadi perhatian utama, terutama untuk pemeriksaan yang bersifat sensitif. Instalasi laboratorium juga beroperasi 24 jam, melayani pasien umum, peserta BPJS, hingga keperluan medical check-up.
Di bidang mikrobiologi, kemampuan pemeriksaan kultur dan uji resistensi antibiotik (antibiogram) menjadi salah satu layanan unggulan. Pemeriksaan ini dinilai penting untuk membantu dokter menentukan terapi yang efektif di tengah meningkatnya kasus resistensi antibiotik.
Tak hanya itu, laboratorium telah dilengkapi teknologi High Performance Liquid Chromatography (HPLC) untuk pemeriksaan HbA1c pada pasien diabetes melitus dan analisis hemoglobin dalam diagnosis thalasemia. Apabila dibutuhkan, pemeriksaan lanjutan dapat dilakukan melalui metode elektroforesis.
Meski sebagian besar pemeriksaan sudah dapat dilakukan secara mandiri, beberapa tes khusus seperti tumor marker tertentu dan skrining bayi baru lahir masih dirujuk ke laboratorium mitra. Langkah ini ditempuh dengan pertimbangan efisiensi dan optimalisasi penggunaan bahan pemeriksaan.
Selain penguatan layanan diagnostik, rumah sakit juga tengah mempersiapkan peningkatan status Bank Darah Rumah Sakit (BDRS) menjadi Unit Penyediaan Darah Rumah Sakit (UPDRS) Pratama. Saat ini proses perizinan telah berjalan dan memasuki tahap pemenuhan administrasi.
Apabila status meningkat, fasilitas pengolahan komponen darah akan semakin lengkap dan memungkinkan kerja sama penyediaan stok darah dengan rumah sakit lain di wilayah Samarinda dan sekitarnya.
Dengan dukungan 25 tenaga analis kesehatan dan staf administrasi, Instalasi Laboratorium menargetkan pelayanan yang cepat, akurat, dan aman sebagai bagian dari komitmen peningkatan mutu layanan kesehatan bagi masyarakat. (*/adv/dim)












