NUSANEWS.CO.ID – SAMARINDA. RSUD Abdoel Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda menggelar Roundtable Discussion Pengembangan Riset dan Pelatihan, Kamis (12/2/2026), di Ruang Mentari Gedung Utama Lantai 2 yang dihadiri oleh Healthy Advisor Kaltim, DR Afzal Mahmood dari Universitas Adelaide Australia dan diinisiasi oleh Wadir SDM dan Diklatlit RSUD AWSjahranie, Masitah.
Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–12.00 WITA ini membahas penguatan kolaborasi penelitian, peningkatan kualitas publikasi, hingga hilirisasi hasil riset agar berdampak langsung bagi masyarakat dan industri.
Diskusi menghadirkan sejumlah tim penelitian internal rumah sakit, manajemen, serta Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kalimantan Timur, Fitriansyah. Termasuk Direktur RSUD Universitas Airlangga, dr.Ardian dan Wadir Riset Prof.Afif
Tim Penelitian Perawatan Anak menyampaikan rencana kolaborasi dengan tim peneliti di RSCM. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat metodologi dan instrumen penelitian melalui masukan langsung dari peneliti yang lebih dahulu melakukan studi serupa.
Sementara itu, Tim Penelitian Radioterapi memiliki keunggulan berupa tenaga ahli statistik yang mampu menganalisis data penelitian secara mendalam. Tim ini dinilai dapat menjadi rujukan bagi kelompok penelitian lain, khususnya dalam pengolahan data. Kendala utama yang dihadapi adalah keterbatasan waktu dalam penyusunan draft publikasi, sehingga diusulkan adanya dukungan dari institusi pendidikan untuk membantu proses penulisan ilmiah lebih terstruktur
Tim Penelitian Kesehatan Lingkungan memaparkan temuan unik berbasis bahan lokal Samarinda yang tidak dimiliki daerah lain. Penelitian ini berpotensi dikembangkan bersama BRIDA Kaltim untuk menghasilkan produk inovasi maupun paten.
Pengembangan direncanakan dimulai dari satu atau dua rumah sakit sebagai proyek percontohan sebelum diperluas ke seluruh rumah sakit. Aspek keberlanjutan bahan baku, seperti ketersediaan Kutai Clay, serta perhitungan nilai ekonomis menjadi perhatian utama.
Tim Penelitian Jantung dan Pembuluh Darah menekankan pentingnya menyampaikan daftar mitra penelitian kepada Clinical Research Unit (CRU) dan Wakil Direktur Pendidikan dan Penelitian (Wadir Diklatlit) guna menjaga keberlanjutan jejaring riset.
Selain itu, tim diminta membandingkan hasil penelitian dengan studi dari daerah atau negara lain untuk mengidentifikasi perbedaan, termasuk kemungkinan faktor kebiasaan masyarakat atau kondisi khas Kalimantan.
Tim Penelitian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menyoroti perlunya penguatan analisis berbasis data kuantitatif, seperti angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Data tersebut diharapkan dapat menghasilkan kesimpulan yang lebih komprehensif serta mendorong inovasi dalam pencegahan penyakit akibat kerja, penyakit akibat lingkungan, dan kecelakaan kerja.
Untuk Tim Penelitian Neonatus dan Keselamatan Pasien, CRU dan Wadir Diklatlit diminta menyusun panduan instrumen penelitian yang lebih terstandar. Dalam penelitian keselamatan pasien, pemahaman responden terhadap definisi operasional menjadi faktor krusial yang memengaruhi hasil.
Rumah sakit juga diharapkan dapat menyediakan technical team, tim statistik, dan tim epidemiologi sesuai kebutuhan masing-masing penelitian.
Sebagai bentuk penghargaan terhadap peneliti, diusulkan celebration pemberian sertifikat, penayangan capaian riset melalui videotron, serta penyelenggaraan simposium hasil penelitian selama satu hari penuh. Selain itu, manajemen diminta menyusun milestone dan roadmap riset untuk dua hingga tiga tahun ke depan dengan menonjolkan keunikan RSUD AWS.
Kepala BRIDA Kaltim, Fitriansyah, menegaskan komitmen pihaknya untuk menindaklanjuti riset terapan yang berpotensi memberikan dampak langsung kepada masyarakat, mendukung pengambilan kebijakan pemerintah, maupun menghasilkan nilai ekonomi.
Menurutnya, hasil riset tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat, pemerintah, dunia ilmu pengetahuan, serta dunia industri.
“Ada temuan yang memiliki unsur kebaruan (novelty) dan berpotensi dikolaborasikan dengan dunia industri untuk menghasilkan skala ekonomi. Ini sejalan dengan arahan pemerintah pusat agar riset dan inovasi memberi dampak luas, termasuk kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi,” ujar Fitriansyah.
Ia menambahkan, sektor kesehatan merupakan salah satu prioritas riset yang dicanangkan pemerintah, sehingga kolaborasi multipihak, termasuk dengan industri, menjadi kunci dalam mendorong hilirisasi inovasi di Kalimantan Timur.
Melalui forum ini, RSUD AWS menegaskan komitmennya untuk memperkuat ekosistem riset yang berkelanjutan, kolaboratif, dan berdampak nyata bagi masyarakat. (Mei)












