S
AMARINDA. Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Sjahranie (RSUD AWS) Samarinda menggelar kegiatan bakti sosial (baksos) kesehatan bagi masyarakat yang mengalami gangguan dan infeksi pada gendang telinga. Sebanyak 15 pasien yang terdiri dari 14 orang dewasa dan satu anak-anak menjalani operasi selama dua hari, Jumat (30/5) dan Sabtu (31/5).
Kegiatan tersebut dibuka oleh Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, dr Jaya Mualimin, didampingi Plt Direktur RSUD AWS, dr Indah Puspitasari, dan Wakil Ketua III Baznas Kaltim, Badrus Syamsi. Hadir pula perwakilan Perhimpunan Ahli Ilmu Penyakit THT Indonesia (Perhati) serta jajaran dokter dan manajemen rumah sakit.
Operasi dilakukan untuk menangani berbagai kasus infeksi telinga kronis dan kerusakan gendang telinga yang tidak bisa ditangani secara sederhana. Tindakan medis dilakukan melalui dua prosedur utama: timpanomastoidektomi dan timpanoplasti. Dalam prosedur ini, gendang telinga yang robek atau berlubang diperbaiki dengan menggunakan jaringan tulang lunak dari bagian depan telinga. Proses operasi disiarkan secara langsung dari ruang bedah, memperlihatkan bagaimana dokter membuat sayatan di sekitar telinga, membuka telinga tengah dan tulang mastoid, lalu mengangkat jaringan terinfeksi seperti kolesteatoma atau jaringan abnormal lain. Setelah itu, gendang telinga dan tulang telinga tengah yang rusak direkonstruksi.
Dokter spesialis THT RSUD AWS, dr Rahmawati, menjelaskan bahwa seluruh tindakan dilakukan oleh tim dokter THT RSUD AWS bersama instruktur dari Kelompok Studi Otologi Perhati Pusat yang berasal dari Bandung, Surabaya, Jakarta, dan Makassar. Ia menyebut pasien yang dioperasi berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Kaltim. Para pasien dirujuk oleh rekan-rekan sejawat dari daerah, karena operasi ini hanya dapat dilakukan di RSUD AWS. Menurutnya, sebagian besar kasus sudah dalam kondisi komplikasi sehingga membutuhkan tindakan lanjutan dengan metode endoskopis.
Dalam sambutannya, dr Jaya Mualimin menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat membantu masyarakat, khususnya mereka yang mengalami penurunan pendengaran akibat berbagai penyebab. Meski operasi serupa rutin dilakukan di rumah sakit, namun dalam bentuk baksos seperti ini, pasien dikumpulkan sekaligus dan seluruh pembiayaan dibantu oleh Baznas. Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi yang pertama dilakukan di Kaltim dan akan terus dikembangkan. Ke depan, pihaknya berencana menjalin kolaborasi lanjutan dengan Baznas untuk menangani pasien anak-anak yang mengalami gangguan pendengaran berat. Ia menekankan bahwa operasi semacam ini tidak tercover dalam 18 klausul layanan BPJS, sehingga kerja sama dengan Baznas menjadi solusi utama dalam pembiayaan. (me)



















