Kesehatan

Lokakarya Peningkatan Kualitas Layanan Kesehatan Maternal
Berbagi Pengalaman dengan Dokter Spesialis Kandungan dan Bidan Senior

NUSANEWS.CO.ID-SAMARINDA. Di Indonesia Kesehatan Ibu dan Anak menjadi Prioritas Nasional, mengingat Angka Kematian Ibu yang tetap masih tinggi dan berdampak buruk pada kehamilan. Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan indikator penting kualitas pelayanan di suatu wilayah. Tahun 2022 Jawa Timur mencatat 499 kematian ibu (AKI) dengan rasio 93 per 100.000 kelahiran hidup. Rasio Angka Kematian Bayi (AKB) 21,2 per 1.000 kelahiran hidup.
Sementara di Kaltim, jumlah kematian ibu di Kalimantan Timur menunjukkan penurunan signifikan sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data Dashboard Maternal Perinatal Death Notification (MPDN) Kementerian Kesehatan RI per 1 Juli 2025, tercatat 31 kasus kematian ibu hingga akhir Juni.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim, dr. Jaya Mualimin, menyebutkan angka tersebut merupakan yang terendah dalam delapan tahun terakhir.
Meski demikian, ia mengingatkan seluruh pihak untuk tidak lengah terhadap risiko kematian ibu.
“Meski menurun, angka ini tetap menjadi pengingat bahwa kita tidak boleh lengah. Setiap kasus harus dievaluasi secara menyeluruh,” ujar dr Jaya.

Kaltim Healt Advisor, Dr dr Afzal Mahmood, Direktur RS IA Moeis Samarinda dr Osa Rafshodia, dr M Ardian Cahya Laksana selaku Sub Sp Obgin Sos  yang juga Manajer Pelayanan Maternal di RS Airlangga sekaligus dosen di Universitas Airlangga Surabaya, dr M Hud Suhargono, Sp.OG,Subsp.Obginsos  beserta seluruh peserta workshop.

Karena itulah, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga bekerja sama dengan spesialis sistem kesehatan maternal di University of Adelaide Australia menggelar lokakarya bertajuk “Peningkatan Kualitas Layanan Kesehatan Maternal dan Implementasi Program Lokal yang Berkelanjutan”.
Kegiatan ini digelar di RSUD IA Moeis Samarinda selama dua hari Rabu dan Kamis (16-17/7).
Lokakarya ini merupakan tindak lanjut dari lokakarya sebelumnya yang diselenggarakan di Kutai Kartanegara dan Surabaya sebagai bagian dari proyek peningkatan kualitas layanan kesehatan maternal yang berkelanjutan, yang dimulai pada tahun 2023 dengan dukungan dari DFAT Australia, Universitas Airlangga, dan University of Adelaide.

Kegiatan ini diikuti tim dari Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Samarinda dan 6 Rumah Sakit diantaranya 3 rumah sakit di Jawa Timur dan 3 rumah sakit di Kaltim diantaranya RSUD IA Moeis, RS Beriman Balikpapan, RS Samboja dan RS Parikesit Kutai Kertanegara.

Tentu saja kegiatan ini menghadirkan Dr dr M Afzal Mahmood selaku Kaltim Healt Advisor yang secara langsung berbagi pengalaman dengan dokter spesialis kandungan dan bidan senior yang akan saling berbagi informasi tentang isu-isu penting dalam layanan klinis kesehatan maternal dan sistem kesehatan.

“Dengan saling belajar dan dukungan dari dokter spesialis kandungan dan spesialis sistem layanan kesehatan maternal, para peserta lokakarya akan merencanakan inisiatif selanjutnya,” ungkap dr Afzal
Kegiatan yang dimulai pukul 08.30 Wita ini dimulai dengan presentasi masing-masing rumah sakit tentang perkembangan layanan maternalnya, kemudian dilanjutkan dengan diskusi.
Sesuai dengan metode yang digunakan, pembelajaran studi kasus (membahas keberhasilan dan tantangan masing-masing wilayah kerja dengan menerapkan strategi dengan fokus pada kasus kematian ibu atau kejadian nyaris).
Berbagi dan mendiskusikan berbagai inisiatif peningkatan kualitas pelayanan Ibu yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan dengan melibatkan Rumah Sakit dalam kegiatan pelayanannya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, dr Ismed Kusasih yang membuka kegiatan ini berharap dengan adanya workshop ini, maka nantinya dapat meningkatkan kualitas pelayanan maternal, bukan hanya di rumah sakit, tetapi juga di pelayanan primer.
Karena dalam workshop ini keterlibatantidak hanya rumah samit, tapi juga dinas kesehatan, dan stakeholders dari Adelide, Universitas Airlangga dan 6 rumah sakit yang sudah menjadi locus selama beberapa tahun ini.
“Pemkot sangat mendukung ini karena sangat terhubung dengan 4 standar pelayanan minimal, yakni ibu hamil, ibu melahirkan, pelayanan bayi baru lahir dan pelayanan balita,” tuturnya.

Untuk hari kedua, Kamis (17/7) akan dilanjutkan dengan presentasi tim rumah sakit dari Jawa Timur. (me)

What's your reaction?