NUSANEWS.CO.ID – SAMARINDA. Universitas Mulawarman (Unmul) bekerja sama dengan Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI) dan Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran (IKA Unpad) Kalimantan Timur menggelar Diskusi Publik memperingati World Soil Day atau Hari Tanah Sedunia bertema “Menyelamatkan Tanah dan Air untuk Kehidupan Masa Depan”, Kamis (4/12), di Gedung Integrated Laboratory (I-Lab) Universitas Mulawarman.
Acara dihadiri civitas akademika, praktisi pertanahan, tokoh masyarakat, dan mahasiswa dari berbagai program studi dengan antusias. Kegiatan ini menjadi wadah untuk menyatukan gagasan dan kepedulian terhadap keberlanjutan tanah dan air sebagai sumber kehidupan.

Keynote speaker Rudi Rubijaya, Direktur Landreform Direktorat Jenderal Penataan Agraria Kementerian ATR/BPN, menegaskan peran penting tanah dalam pertumbuhan ekonomi dan ketahanan pangan nasional.
“Reforma Agraria tidak hanya tentang sertifikasi tanah. Ia harus berjalan beriringan dengan konservasi tanah dan air agar masyarakat dapat merasakan manfaat ekonomi tanpa merusak lingkungan,” ujarnya.
Rudi juga menyoroti pentingnya riset dan inovasi dari perguruan tinggi sebagai dasar pengambilan kebijakan yang efektif.
Acara dibuka oleh Wakil Rektor Unmul yang menyampaikan komitmen kampus mendukung isu lingkungan.
“Tanah adalah ibu kehidupan. Ketika tanah dan air rusak, maka masa depan manusia juga terancam. Kampus memiliki peran memastikan pengetahuan ini diterapkan dalam pembangunan,” tegasnya.
Dukungan serupa juga disampaikan Ketua HITI, Dr. Husnaeni, MP., M.Sc dan Ketua IKA Unpad Kaltim, Dr. dr. H. Jaya Mualimin, Sp.KJ, M.Kes, MARS yang menilai momentum Hari Tanah Sedunia penting untuk meningkatkan kesadaran publik.
Narasumber diskusi soroti ancaman nyata dan menghadirkan pemantik : Prof. Dr. Ir. Zulkarnaen, M.S. – Guru Besar Konservasi Tanah & Air Unmul, Dr. Syaharie Ja’ang, S.H., M.Si. – Tokoh Masyarakat Kaltim, Dr. Haris Retno Susmiyati, S.H., M.H. – Akademisi Hukum SDA Unmul.
Prof. Zulkarnaen menyampaikan bahwa degradasi tanah di Kalimantan Timur semakin mengkhawatirkan akibat alih fungsi lahan dan aktivitas ekstraktif.
Sementara Dr. Syaharie Ja’ang menekankan keberlanjutan pembangunan di daerah.
“Kaltim bukan hanya pusat ekonomi baru, tapi juga harus jadi pusat konservasi lingkungan hidup,” kata mantan wali kota Samarinda tersebut.
Dr. Haris Retno menyoroti urgensi penguatan regulasi dan penegakan hukum atas lahan kritis.
Dari diskusi yang dipandu oleh Warkhatun Najidah, S.H., M.H ini lahir sejumlah poin penting, diantaranya percepatan Reforma Agraria berbasis keadilan ekologis, Penguatan konservasi tanah dan air dalam kebijakan daerah, kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam pemulihan lahan kritis, dan Edukasi publik mengenai peran tanah bagi ketahanan pangan dan ekonomi hijau.

Ketua IKA UNPAD Kaltim, dr Jaya Mualimin menegaskan komitmen gerakan berkelanjutan. Bahwa diskusi ini akan ditindaklanjuti dengan gerakan kolaboratif lintas disiplin.
“Kami ingin isu tanah dan air menjadi gerakan bersama yang terhubung langsung dengan kesehatan, sosial, dan kesiapsiagaan bencana,” ujarnya. Acara ini menjadi momentum penguatan sinergi kebijakan, sains, dan peran komunitas dalam menjaga tanah dan air sebagai sumber kehidupan serta pilar ketahanan masa depan Indonesia. (Ica)
.




















