Kesehatan

Hancurkan Batu Ginjal dengan Laser
RSUD AW Sjahranie Gelar Workshop Sosialisasikan RIRS untuk Dokter Spesialis Uorologi

RETROGRADE Intrarenal Surgery (RIRS) merupakan terobosan revolusioner dalam bidang urologi minimal invasif yang telah mengubah paradigma penanganan batu ginjal dan patologi saluran kemih atas. Metode ini sebagai alternatif dari teknik konvensional seperti Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL) atau Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL). RIRS dilakukan dengan alat utereskop fleksibel melalui saluran kemih untuk mencapai lokasi batu ginjal, kemudian batu dihancurkan menggunakan laser dan fragmennya dikeluarkan atau dibiarkan keluar secara alami melalui urine.
RIRS menawarkan keunggulan signifikan dalam hal morbiditas yang lebih rendah, waktu pemulihan cepat, dan tingkat keberhasilan tinggi, terutama pada pasien dengan anatomi kompleks atau batu berukuran kecil hingga sedang.
RIRS ini memiliki beberapa kelebihan dibandingPCNL, karena RIRS bisa dilakukan melalui saluran kemih tanpa sayatan. Sehingga risiko infeksi dan komplikasi lainnya lebih rendah, serta waktu pemulihan lebih cepat.
Demikian disampaikan dalam pembukaan The International Workshop Retrograde Intra RenalSurgery yang digelar RSUD AW SJahranie, Rabu (18/6) di Ballroom Poliklinik RSUD AW SJahranie.
Workshop ini menghadirkan narasumber langsung ahli RIRS dari Amerika Serikat (USA) Prof Michael Grasso dan Dr Mitchell Fraiman didampingi dr Boyke Soebhali dan dr Ricky Agave.
Ada 8 orang dokter spesialis urologi yang hadir sebagai peserta workshop ini, yang berasal dari Balikpapan, Samarinda, Sangatta dan Tenggarong, Bandung, Surabaya dan Bali.

Plt Direktur RSUD AW Sjahranie, dr Indah Purpita Sari mengatakan, meskipun potensinya besar, adopsi RIRS secara global masih menghadapi tantangan multidimensi. Variasi anatomi pasien, risiko komplikasi seperti perforasi ureter atau sepsis, serta kebutuhan akan keahlian teknis yang tinggi seringkali menjadi penghambat utama. Diterangkannya, di banyak negara berkembang, keterbatasan akses terhadap pelatihan spesialisasi dan perangkat canggih menyebabkan kesenjangan kompetensi yang signifikan. Survei terbaru oleh European Association of Urology (EAU) menunjukkan bahwa lebih dari 50% urologis beranggapan bahwa penghalang utama untuk adopsi perkembangan terbaru pada RIRS, yaitu teknologi suction adalah kurangnya ketersediaan teknologi. Hambatan lainnya termasuk kurangnya standarisasi prosedural (37,65%), kurangnya bukti (34,9%), kurangnya pelatihan yang tepat (29,58%) dan kurangnya advokasi dalam pedoman saat ini (17,72%). Di sisi lain, inovasi ini menuntut adaptasi cepat dari dokter spesialis urologi, yang tidak selalu diimbangi oleh kurikulum
“Kami berharap pertukaran ilmu ini akan memberikan peningkatan layanan urologi di Kaltim. Setelah pelatihan ini pastinya tidak hanya doktet urologi yang ada di RS AWS saja tapi seluruh Indonesia bisa mengaplikasikan teknologi ini dan melakukannya di rumah sakit masing-masing serta menularkan ilmunya kepada dokter urologi lainnya,” harap dr Indah.
Untuk RSUD AW Sjahranie sendiri, dr Indah berharap ini menjadi bagian dari peningkatan layanan urologi yang sudah mengarah ke paripurna. “Dengan adanya tambahan transpalasi ginjal dengan metode RIRS ini yang merupakan metode baru, semoga kita bisa mencapai paripurna,” tambahnya.
Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, dr Jaya Mualimin yang membuka workshop tersebut mengaku sangat mengapresiasi kegiatan ini, karena berbagi ilmu untuk teknologi urologi yang ter update.
“Mengeksplorasi inovasi teknologi terkini
dalam RIRS, tentunya ini akan meningkatkan kompetensi multidisiplin peserta workshop dalam teknik RIRS melalui integrasi pembelajaran teoritis, pelatihan praktis, dan pertukaran pengetahuan berbasis bukti (evidence-based practice). Semoga workshop ini berjalan lancar dan dapat menularkan ilmu kepada dokter urologi lainnya,” ucap dr Jaya.

Kegiatan ini dilaksanakan selama 2 hari dengan format Workshop offline, mencakup
kuliah pakar, diskusi panel, dan presentasi kasus klinis hingga langsung melakukan tindakan pada pasien. (me)

What's your reaction?